Isunomic-Dalam forum Plantation360 yang diselenggarakan oleh EDS16 dan Council of Palm Oil Producing Countries di Bangkok, Thailand, Selasa kemarin (13/10), Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menekankan pentingnya investasi ke sektor perkebunan kelapa sawit berkontribusi pada pertumbuhan yang inklusif. Modal swasta yang mengalir harus mampu menjangkau seluruh rantai nilai.
“Pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar modal yang dapat kita mobilisasi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah ke mana modal tersebut mengalir dan apa hasil yang dapat dicapai,” kata Menkeu Sua dikutip Rabu (14/10/2026).
Menkeu Sua menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia, mulai dari ekonomi perdesaan dan industri manufaktur hingga sektor pangan dan energi. Indonesia memiliki lebih dari 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit, dengan sekitar 41% di antaranya dikelola oleh pekebun (smallholders).
Kondisi ini menunjukkan bahwa masa depan industri sawit berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat perdesaan. Jadi, peningkatan produktivitas menjadi prioritas agar pendapatan pekebun dapat meningkat tanpa menambah tekanan terhadap kawasan hutan.
Untuk mewujudkan misi tersebut, Menkeu Sua menekankan tiga langkah utama. Pertama, menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari daya tarik investasi. Indonesia mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk pangan berbasis pertanian, oleokimia, biomaterial, serta investasi dalam teknologi pengolahan dan inovasi produk.
Kedua, memperkuat peran pemerintah dan lembaga pembiayaan pembangunan untuk membuka peluang investasi yang belum dapat dikelola sepenuhnya oleh mekanisme pasar. Instrumen berbagi risiko, bantuan teknis, dan penyiapan proyek dapat membantu menarik modal swasta untuk peremajaan perkebunan rakyat, penguatan ketertelusuran rantai pasok, dan pengembangan industri hilir.