Isunomic-Merayakan usianya yang ke-28 tahun, Bank Mandiri menggelar berbagai kegiatan dan promo besar-besaran. Semuanya terpampang dengan jelas di laman HUT Mandiri 28, dengan tagline “Serba 28, Penuh Kemeriahan”.
Tampaknya, Bank Mandiri merayakan hari ulang tahunnya yang jatuh pada 2 Oktober itu dengan sangat spesial, barangkali lantaran ada angka “8”. Bank Mandiri juga ingin memberikan kado kepada para nasabah dan pemegang sahamnya secara mengesankan.
Yang spesial dan mengesankan tak cuma kado yang Bank Mandiri berikan, tapi juga hadiah ulang tahun yang sudah disiapkan. Bank Mandiri menerima hadiah spesial dan mengesankan berupa gadai saham milik Andi Syamsuddin Arsyad, alias Haji Isam, di dua perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Tak tanggung-tanggung, nilai gadai saham milik Haji Isam mencapai Rp73 triliunan. Hadiah yang diterima Bank Mandiri pada 30 September 2026--dua hari sebelum perayaan--datang dari gadai saham Haji Isam di PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) senilai Rp51,67 triliun dan saham di PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) senilai Rp28,6 triliun.
Nilai-nilai saham kedua emiten itu berdasarkan perhitungan jumlah saham milik Haji Isam dan harga penutupan pada tanggal 30 September 2026. Saham di JARR sebanyak 7.997.556.204 lembar dengan harga Rp3.580 dan saham di PGUN sekitar 5,30 miliar lembar dengan harga Rp9.750.
Di JARR Haji Isam menggadaikan sahamnya lewat PT Eshan Agro Sentosa, dan di PGUN lewat PT Baramega Cipta Mulia Persada, PT Araya Agro Lestari, dan PT Citra Agro Raya. Jadi yang bertransaksi ke Bank Mandiri adalah perusahaan-perusahaan milik Haji Isam yang menjadi pemegang saham di kedua emiten tadi, bukan PGUN atau JARR secara langsung.
Kado ultah dari Haji Isam jelas bukan tanpa balasan, tapi ada “imbalan” yang harus dilampirkan. Ya Bank Mandiri memberikan pinjaman kepada Haji Isam untuk memborong saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) milik Dato Low Tuck Kwong.
Untuk memborong saham BYAN sebesar 30,25% atau sebanyak 10 miliar lembar, Haji Isam harus merogoh kocek sebanyak Rp26 triliun lebih. Nilai itu didapat dari harga Rp2.588 per lembar saham, jauh di bawah harga pasar sebab harga BYAN di kisaran Rp11 ribuan.
Sejatinya, isu Haji Isam membeli saham BYAN sudah ramai dibincangkansejak pertengahan Agustus kemarin. Kabar pembelian itu menyeruak usai foto Haji Isam bersama Dato Low Tuck Kwong yang meninjau area tambang di Kutai Kartanegara beredar luas.
Meski rumor sudah beredar luas dan dipercaya kebenarannya, namun kejelasan Haji Isam membeli saham BYAN baru bisa “dipastikan” semuanya dimulai pada tanggal 7 Oktober 2026. Di tanggal itu PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk melapor ke BEI soal penandatanganan akta gadai saham perusahaan yang dilakukan pada 30 September 2026.
Gongnya terjadi pada 14 Oktober 2026. Lewat keterbukaan informasi yang disampaikan BYAN ke BEI, PT Jhonlin Baratama menyatakan bahwa mereka memiliki saham sebanyak 10.067.421.703 lembar atau 30,20%. Jumlah saham Dato Low Tuck Kwong sudah berkurang menjadi 3.316.166.832,00 lembar atau 9,95%.
Meski hingga saat ini Bank Mandiri belum memberikan pernyataan, namun semua transaksi setiap emiten yang terkait gadai saham Haji Isam terungkap ke publik lewat keterbukaan informasi yang disampaikan kepada BEI oleh pihak PGUN dan JARR.
"Penandatangan Akta Gadai Saham milik PT Eshan Agro Sentosa dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh perseroan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk," tulis Direktur Utama JARR Indra Irawan, Rabu (7/10/2026).
“Proses negosiasi dan pengajuan kredit berlangsung langsung antara PT Jhonlin Baratama dan Bank Mandiri,” jelas Tamlikho, Direktur Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), Sabtu (10/10).
Selain itu, gerak-gerik Bank Mandiri pun mengindikasikannya. Pada 30 September 2026 jam 11 malam, Bank Mandiri (PT Bank Mandiri Tbk) memasukkan laporan keterbukaan informasi mengenai pencatatan realisasi penerbitan perpetual bond (obligasi abadi) senilai USD750 juta. Dana hasil penerbitan obligasi abadi ini sudah mendapat restu dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk dicatakan sebagai tambahan modal inti.
“OJK telah memberikan persetujuan atas pencatatan realisasi penerbitan perpetual bond sebagai komponen modal inti tambahan (Additional Tier-1) Perseroan,” tulis Adhika Vista, Corporate Secretary Bank Mandiri.