Setelah mendapat persetujuan OJK, dana sebesar USD750 juta atau setara Rp13,1 triliun itu (kurs Rp17.500) masuk ke kantong Bank Mandiri untuk digunakan membiayai “aktivitas sehari-hari” perusahaan. Termasuk memberikan kredit ataupun pinjaman kepada Haji Isam. 

“Dana hasil penerbitan perpetual bond digunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan perseroan, serta mendukung ekspansi kegiatan usaha perseroan,” tulis Adhika, lagi.

Jika mau menilik sejenak ke belakang, sejatinya penerbitan obligasi abadi ini sudah dilakukan oleh Bank Mandiri jauh sebelum tanggal 10 September 2026. Pada keterbukaan informasi di tanggal 10 itu, Bank Mandiri menyatakan perseroan telah menyelesaikan penerbitan perpetual bond senilai USD750 juta dan sudah menerima dananya.

“Melalui penerbitan perpetual bond, perseroan telah memperoleh dana yang akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan. Penerbitan perpetual bond akan memberikan dampak positif pada kondisi keuangan Perseroan,” tulis Adhika dalam keterbukaan tanggal 10 September.

Persiapan juga sudah dilakukan oleh Bank Mandiri untuk mendapatkan restu OJK mengenai dana hasil obligasi abadi masuk ke dalam tambahan modal inti. 20 hari kerja antara rentang tanggal 10 hingga 30 September bisa dibilang terbilang “cepat” untuk mendapatkan restu itu.  

Jadi ketika Bank Mandiri melapor untuk mendapatkan persetujuan, OJK tak lagi dari nol meneliti semua berkas dokumen yang ada. OJK tinggal kasih stempel lantaran sudah mengetahui semua prosesnya dari awal. 

“Pemberian pinjaman kepada Haji Isam tentu saja akan menggerus rasio kecukupan modal (CAR) Bank Mandiri,” kata Hardy R. Hermawan, pengamat ekonomi dan perbankan dari Praxa Institute, kepada Isunomic, Jumat (16/10/2026).

Ditambah lagi, saat ini tampaknya Bank Mandiri juga mulai merasa “kehausan duit”. Loan to deposito rasio (LDR) Bank Mandiri sudah menyentuh angka 94,45%.  

Masih ada lagi, CAR Bank Mandiri di semester I tahun ini tercatat 17,5%, turun dibanding catatan pada kuartal I yang masih bertengger di level 19,7%. Kemudian adanya kenaikan cost of credit di saat rasio loan loss reserve (CPKN) yang hanya sekitar 2,4%.

“(CPKN) berada di level terendah sepanjang sejarahnya,” tulis Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nurkholis Syafruddin dalam risetnya yang berjudul  “Haji Isam’s Share Pledge, Part II” dikutip Jumat (16/10). 

Agar tampilan likuiditasnya terlihat menjadi lebih mengkilau, Bank Mandiri perlu “suntikan uang”. Makanya bank berlambang pita ema situ pun menerbitkan obligasi abadi di Singapura  senilai USD750 juta. 

Dengan memperhitungkan skala total aset, tambahan modal inti dari obligasi abadi senilai USD750 juta tersebut bisa mendongkrak rasio modal (CAR) Bank Mandiri. Dana hasil obligasi abadi Bank Mandiri bisa dibilang merupakan bantalan likuiditas.

Sekarang bagaimana dengan keuntungan dan risko yang dihadapi Bank Mandiri dari kado ultah Istimewa Haji Isam? Dalam hitungan rekaan, dengan suku bunga kredit korporasi 9%-11%, kemudian biaya dana (CoF) antara 3,5% hingga 4%, sehingga ada margin (NIM) antara 5% hingga 7%, pemberian pinjaman kepada Haji Isam sebesar Rp26,1 triliun akan mendatangkan keuntungan bagi Bank Mandiri antara Rp1,3 triliun hingga Rp1,8 triliun di tahun pertama.

Keuntungan segede gaban itu, plus ditopang kemampuan likuditas perseroan, bisa jadi yang membuat Bank Mandiri “melahap” sendirian pemberian pinjaman kepada Haji Isam. Biasanya, dalam memberikan kredit jumbo, Bank Mandiri kerap membentuk sindikasi, baik sebagai pemimpin maupun anggota. 

Sebut saja kredit ke PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) sebesar Rp5,7 triliun di tahun 2021. Atau, kredit ke PT Waskita Karya (Persero) Tbk Rp5,14 Triliun di tahun 2017.