Di kuartal II tahun ini, pendapatan HighPeak Energy, Inc tercatat USD272,4 juta dan laba bersih sebesar USD82,3 juta. Laba bersih itu meningkat signifikan dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat USD26,2 juta.
Mari kita bandingkan dengan Pertamina, maksudnya Pertamina Hulu Energi--perusahaan sejenis—yang berada di bawah naungan Danantara. Per Juni 2026, aset Pertamina Hulu Energi (PHE) mencapai USD32,8 miliar atau setara Rp574 triliun, 10 kali lebih besar dari HighPeak.
Lantas berapa produksi PHE? Sebanyak 935 ribu barel per hari, atau 20 kali lebih banyak. Dari sisi pendapatan, PHE mengantongi pemasukan mencapai USD7,5 miliar lebih. Sedangkan laba usahanya menembus USD1,96 miliar.
Menyoal transfer teknologi atau pengetahuan dari HighPeak yang menggunakan teknologi hydraulic fracturing (fracking) akan memunculkan pertanyaan sederhana: apakah karakteristik geologis di Permian Basin sama dengan wilayah Indonesia?
Karakteristik batuan serpih (shale) di Indonesia umumnya mengandung lebih banyak tanah liat (clay-rich shale). Batuan jenis ini cenderung lebih "lunak" atau tidak mudah retak secara permanen dibandingkan batuan serpih di Permian Basin yang lebih keras dan rapuh (brittle).
Memang bukan berarti tak bisa diterapkan. Teknologi itu bisa diterapkan di Indonesia, tapi tentu dengan penyesuaian. Tak bisa plek ketiplek langsung dipakai (plug-and-play). Jadi perlu biaya lagi. Duh...