Isunomic-Indonesia berpotensi menghasilkan biosolusi melalui pengembangan inovasi hayati. Biosolusi merupakan teknologi berbasis makhluk hidup yang dimanfaatkan untuk mengatasi masalah lingkungan, pangan, dan energi, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.
Kajian The Value of Biosolutions memproyeksikan nilai ekonomi biosolusi di Indonesia naik hampir tiga kali lipat, dari hampir USD1 miliar atau Rp18 triliun (kurs Rp18.000) saat ini menjadi USD2,3 miliar (Rp41,4 triliun) pada 2035. Setiap satu lapangan kerja di industri biosolusi akan menyerap 3,8 pekerjaan tidak langsung di industri lain, lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 2,4.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo menyebut, pengembangan bioekonomi akan difokuskan pada klaster pangan, energi, kesehatan, kosmetik, biomaterial, dan jasa lingkungan. Kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi mesin kuat bagi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
āBiosolusi bukan sektor yang berdiri sendiri. Biosolusi adalah pendorong lintas klaster yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah di seluruh bioekonomi,ā ujar Teguh, saat peluncuran laporan bertajuk āThe Value of Biosolutions: Growth and Prosperity to 2035 ā Indonesia Editionā di Jakarta, Rabu (28/10).
Sementara itu, H.E. Sten Frimodt Nielsen (Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan ASEAN) mengatakan bahwa biosolusi membuka peluang baru bagi kerja sama Indonesia dan Denmark. Sten menambahkan, bahwa inovasi bisa mengatasi pilihan sulit antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.
āInovasi dapat membantu kita mencapai keduanya. Di sinilah biosolusi dapat membuat perbedaan. Salah satu pelajaran penting dari pengalaman kami, inovasi membutuhkan kondisi yang tepat agar berhasil, regulasi yang jelas, investasi dalam riset dan pengembangan, serta kerja sama erat antara pemerintah, industri, dan akademisi,ā ujar Sten.
Country Manager Novonesis Indonesia, Ang Yonny Setiady, menyuarakan optimismenya terhadap posisi Indonesia di kawasan. Indonesia memiliki modalitas dan ambisi yang kuat untuk menjadi pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara.
āMelalui intervensi kebijakan yang tepat, biosolusi akan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan mengakselerasi pencapaian Visi Indonesia Emas 2045,ā ungkap Yonny.