Isunomic-Bank of Korea (BOK) mengumumkan bahwa pada kuarta III tahun ini, ekonomi Negeri Ginseng itu tumbuh sebesar 1%. Angka itu naik jika dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang hanya 0,6%.
BOK menyatakan bahwa capaian pertumbuhan di kuartal ini melampaui prediksi mereka. Sebelumnya bank sentral Korea itu memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal III hanya sebesar 0,3%.
Secara tahunan (YoY), pertumbuhan ekonomi Korea sebesar 3,4%. Capaian itu melambat jika dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,7%.
Penopang utama kenaikan pertumbuhan di kuartal III ini adalah lonjakan ekspor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan permintaan global terhadap semikonduktor Korea Selatan. Sepanjang kuartal III, ekspor Korea melonjak 2,3%.
Berdasarkan data Bea Cukai Korea (Korea Customs Service), nilai ekspor komponen semikonduktor dan sirkuit terpadu melonjak ke rekor tertinggi historis (all-time high). Pada September 2026 saja nilai ekspor semikonduktor nasional menyentuh angka sekitar USD43,6 miliar atau setara Rp784,8 triliun (kurs Rp18.000).
Sementara investasi fasilitas itu melesat sangat tajam hingga 4,1%. Angka itu menunjukkan tingginya ekspansi bisnis perusahaan dalam memperluas kapasitas produksi mereka.
Penopang selanjutnya adalah belanja atau pengeluaran pemerintah. Pos ini turut memberikan sokongan positif dengan kenaikan sebesar 1,9% secara kuartalan.
Kendati ekspor dan investasi menjadi penyokong utama, pertumbuhan ekonomi Korea di kuartal III ini masih menyisakan sedikit catatan. Konsumsi swasta (private consumption) justru mengalami penurunan sebesar 0,2 % akibat tekanan biaya hidup atau sentimen konsumen.
Saat ini Masyarakat Korea dihadapkan pada kenaikan suku bunga kredit akibat langkah BOK menekan laju inflasi. Per September inflasi Korea berada di kisaran 2,9%, atau melambat tipis dari 3,1% dibanding Agustus.
Meskipun trennya melambat, angka ini masih berada di atas target bank sentral yang sebesar 2,0%. Selain itu, ekspektasi inflasi masyarakat (inflation expectations) untuk satu tahun ke depan masih tertahan di angka 2,7%, yang berarti warga merasa harga-harga barang kebutuhan pokok, energi, dan jasa masih akan mahal.
Langkah BOK menekan inlfasi dengan mengerek suku bunga juga berdampak pada ekonomi warga Korea. Saat ini suku bunga acuan di Korea berada di level 3,00%.
Angka bunga acuan saat ini merupakan kebijakan pengetatan yang agresif dengan melakukan kenaikan beruntun masing-masing 25 basis poin pada Juli dan Agustus (back-to-back rate hikes) untuk meredam risiko harga. Pada paruh pertama tahun ini, suku bunga itu masih “nangkring” di angka 2,50%.
Kenaikan suku bunga ini tentu saja berdampak pada lonjakan biaya cicilan, kredit, dan pinjaman rumah tangga. Tak pelak, warga harus mengerem pengeluaran konsumtifnya.
Kombinasi antara suku bunga yang ditahan cukup tinggi (3%) dan inflasi yang masih di atas target inilah yang membuat dompet warga Korea terasa "terperas". Di satu sisi cicilan utang membengkak akibat suku bunga, di sisi lain harga barang sehari-hari masih terasa mahal—inilah alasan kuat mengapa konsumsi swasta akhirnya merosot (0,2%)
Di kuartal III ini, Korea mengalami “ekonomi pincang”. Pasalnya, penurunan konsumsi warga justru terjadi ketika Korea mencatatkan pendapatan domestik bruto riil (GDI)--yang mencerminkan perubahan dalam nilai tukar perdagangan (terms of trade)--naik 18,8% secara tahunan pada kuartal ketiga. Angka ini merupakan lonjakan tertinggi sejak kuartal keempat tahun 1977 yang mencapai 19%.
Ternyata, pertumbuhan GDI yang fantastis itu didorong oleh lonjakan harga jual barang ekspor andalan Korea Selatan, seperti chip semikonduktor di pasar global. Keuntungan besar dari ledakan AI ini hanya mengalir deras ke pundi-pundi perusahaan raksasa, seperti Samsung atau SK Hynix, tapi tidak secara otomatis langsung masuk merata ke dompet setiap buruh atau masyarakat kelas menengah-bawah.
Ketimpangan itu menunjukkan bahwa perekonomian Korea Selatan sedang berjalan dengan dua kecepatan yang berbeda. Sektor eksternal (luar negeri) melaju super kencang dan meraup cuan luar biasa berkat demam AI. Sementara, sektor domestik (konsumen/rakyat) berjalan dengan lesu karena digandoli biaya hidup.