Kenaikan suku bunga ini tentu saja berdampak pada lonjakan biaya cicilan, kredit, dan pinjaman rumah tangga. Tak pelak, warga harus mengerem pengeluaran konsumtifnya.
Kombinasi antara suku bunga yang ditahan cukup tinggi (3%) dan inflasi yang masih di atas target inilah yang membuat dompet warga Korea terasa "terperas". Di satu sisi cicilan utang membengkak akibat suku bunga, di sisi lain harga barang sehari-hari masih terasa mahal—inilah alasan kuat mengapa konsumsi swasta akhirnya merosot (0,2%)
Di kuartal III ini, Korea mengalami “ekonomi pincang”. Pasalnya, penurunan konsumsi warga justru terjadi ketika Korea mencatatkan pendapatan domestik bruto riil (GDI)--yang mencerminkan perubahan dalam nilai tukar perdagangan (terms of trade)--naik 18,8% secara tahunan pada kuartal ketiga. Angka ini merupakan lonjakan tertinggi sejak kuartal keempat tahun 1977 yang mencapai 19%.
Ternyata, pertumbuhan GDI yang fantastis itu didorong oleh lonjakan harga jual barang ekspor andalan Korea Selatan, seperti chip semikonduktor di pasar global. Keuntungan besar dari ledakan AI ini hanya mengalir deras ke pundi-pundi perusahaan raksasa, seperti Samsung atau SK Hynix, tapi tidak secara otomatis langsung masuk merata ke dompet setiap buruh atau masyarakat kelas menengah-bawah.
Ketimpangan itu menunjukkan bahwa perekonomian Korea Selatan sedang berjalan dengan dua kecepatan yang berbeda. Sektor eksternal (luar negeri) melaju super kencang dan meraup cuan luar biasa berkat demam AI. Sementara, sektor domestik (konsumen/rakyat) berjalan dengan lesu karena digandoli biaya hidup.