Isunomic-Gaes, kalian perlu tahu. Di perairan Talisayan, Kalimantan Timur, hiu paus telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir. Bagi nelayan setempat, hiu paus bukan hanya satwa laut terbesar di dunia, tapi juga sahabat yang hidup berdampingan dengan mereka.
Di laut yang sama, saat para nelayan mencari penghidupan, hiu paus juga berenang melintasi perairan untuk mencari makan dan bermigrasi. Keduanya telah lama berbagi ruang hidup yang sama.
Keberadaan hiu paus juga memiliki arti penting bagi ekosistem laut. Sebagai salah satu megafauna laut, kehadirannya turut mendukung keseimbangan ekosistem sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui wisata berbasis konservasi atau ecotourism yang berkembang di wilayah pesisir.
Nah, perkaranya, hiu paus saat ini menghadapi berbagai ancaman, termasuk risiko tabrakan dengan kapal di jalur pelayaran. Spesies yang berstatus terancam punah (Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) ini tercatat mengalami penurunan populasi global lebih dari 50%. Dengan tingkat reproduksi yang lambat, para ahli memperkirakan dibutuhkan hingga 100 tahun untuk memulihkan populasi hiu paus ke kondisi ideal.
Nah, sebagai salah satu negara yang menjadi habitat penting hiu paus di dunia, Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga kelestariannya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan bagi PT Pertamina International Shipping (PIS) untuk mengambil bagian dalam upaya menjaga keberlangsungan ekosistem laut, khususnya perlindungan terhadap hiu paus.
Kenapa PIS peduli? Ya, sebagai perusahaan yang aktivitas bisnisnya sangat dekat dengan laut, mereka memandang keberlanjutan pelayaran perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keanekaragaman hayati di dalamnya. Makanya, PIS mengoptimalkan pelayaran berkelanjutan dan menjaga keanekaragaman hayati, terutama ekosistem laut.
"Jadi bisnis dan lingkungan dapat berjalan secara harmonis dan lestari untuk masa depan,” ujar Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dikutip, Minggu (27/9/2026).
Menurut Vega nih, konservasi hiu paus merupakan contoh cara dunia usaha dapat menjadi bagian dari solusi terhadap tantangan lingkungan melalui kolaborasi dan inovasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan satellite tag pada hiu paus untuk memahami pola pergerakan dan habitat penting spesies tersebut.
"Data yang diperoleh memungkinkan para peneliti mengidentifikasi area dengan potensi interaksi tinggi antara kapal dan hiu paus, sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih dini," jelas Vega.
Iqbal Herwata, Focal Species Conservation Senior Manager dari Konservasi Indonesia, menjelaskan bahwa teknologi menjadi instrumen penting dalam mendukung konservasi berbasis data. Pemasangan satellite tag dapat memberikan informasi pergerakan hiu paus.
"Jadi mitigasi dapat dilakukan sebelum risiko tabrakan dengan kapal menjadi tidak teridentifikasi dan membahayakan bagi hiu paus," ujar Iqbal, yang terjun langsung dalam program Whale Shark Tagging di perairan Kepulauan Derawan yang diinisiasi oleh PIS.
Selain melalui teknologi, upaya perlindungan hiu paus juga dilakukan melalui peningkatan kesadaran dan kapasitas para pelaut yang setiap hari beraktivitas di laut. Pemahaman mengenai habitat hiu paus dan praktik pelayaran yang aman menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko terhadap megafauna laut tersebut.
Bagi para pelaut, informasi mengenai keberadaan hiu paus membantu meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi wilayah yang menjadi habitat atau jalur migrasi spesies tersebut. Inisiatif PIS menjaga habitat hiu paus ini sangat penting bagi kehidupan megafauna laut yang ancaman hidupnya bisa berasal dari kapal.
"Kami bisa lebih berhati-hati ketika melewati daerah yang rawan," ujar Capt. Marsel Williem, Pelaut kapal PIS.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelayaran dan konservasi dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan teknologi, peningkatan kapasitas pelaut, serta kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, risiko terhadap hiu paus dapat diminimalkan tanpa mengurangi keselamatan maupun efektivitas operasional pelayaran.