Isunomic-Anak kuliahan dan kaum muda biasanya terlihat “jago” menggunakan berbagai aplikasi di ponsel (hape). Pokoknya sat-set dan tinggal klak-klik setiap pakai aplikasi yang ada di hape, terutama terkait transaksi keuangan, mulai dari transfer, tarik tunai, hingga  bayar ini itu lewat QRIS atau e-wallet. Kemampuan itu disebut digital savvy. 

Nah digital savvy harus diimbangi dengan risk savvy. Apa itu? Risk savvy adalah kemampuan dan ketangguhan dalam mengenali, memetakan, dan mengelola risiko yang menyertai penggunaan teknologi digital. Kemapuan ini mencakup sikap kritis sebelum bertransaksi, kebiasaan memverifikasi informasi, kemampuan menghindari kejahatan siber, menjaga data pribadi, serta keberanian melapor melalui kanal resmi jika mengalami kendala.

Baca juga: IHSG Sepekan Kian Tak Karuan, Terseret Saham Ojek Online

Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengatakan kehebatan mahasiswa dan kaum muda menggunakan teknologi perlu diikuti kemampuan mengenali dan mengelola risiko, dari digital savvy menjadi risk savvy. Penipuan digital sering memanfaatkan kepanikan, kepercayaan, dan desakan untuk bertindak cepat sehingga konsumen mengambil keputusan tanpa verifikasi. 

Makanya, mahasiswa atau kaum muda perlu berhenti sejenak sebelum bertransaksi, memeriksa sumber informasi melalui kanal resmi, melindungi data pribadi, dan berani mengadukan permasalahan. Kaum muda juga didorong menjadi agen edukasi dengan membagikan pengetahuan kepada lingkungannya, sehingga dapat menjadi penggerak budaya kritis dan bertanggung jawab dalam penggunaan layanan keuangan digital.