Isunomic-Berdasarkan data Trade Map yang diolah Kementerian Perdagangan (Kemendag), sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor kategori produk-produk ramah lingkungan (environmental goods) Indonesia mencapai USD6,65 miliar atau setara Rp116,3 triliun (kurs Rp17.500). Jumlah itu sekitar 59,7% dibandingkan periode yang sama pada 2024. 

Sementara itu, sepanjang 2024, nilai ekspor produk pada kategori tersebut mencapai USD8,03 miliar atau Rp1405 triliun. Angka itu meningkat dari USD7,03 miliar pada 2023. 

Besarnya nilai ekspor itu sejalan dengan perkembangan perdagangan luar negeri yang menuntut pelaku usaha untuk memperhatikan aspek keberlanjutan, ketelusuran rantai pasok, efisiensi penggunaan sumber daya, serta transparansi informasi mengenai lingkungan. Upaya ini menjadi penting untuk meningkatkan daya saing dan memperluas akses produk-produk Indonesia di pasar global. 

“Kami ingin memperkuat pemahaman pelaku usaha terhadap perkembangan perdagangan global sekaligus mendorong optimalisasi peluang ekspor produk ramah lingkungan di pasar global,” kata Tommy Andana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Selasa (20/10/2026).

Sejumlah produk ramah lingkungan yang berkontribusi terhadap ekspor pada 2024 meliputi komponen dan aksesori kendaraan bermotor, tungku dan oven listrik untuk keperluan industri atau laboratorium, serta komponen mesin dan peralatan listrik. 

Sementara itu, Dewi Muliana (Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian) menyampaikan strategi dan kesiapan sektor industri Indonesia menuju industri hijau. Sejumlah upaya telah pemerintah lakukan, misalnya dengan menerapkan Standar Industri Hijau (SIH), mengembangkan ekonomi sirkular, serta mendukung pembiayaan dan insentif pelaku usaha. 

“Bicara industri hijau, tujuan akhirnya adalah agar sumber daya alam Indonesia berkelanjutan. Kita perlu mengurangi emisi, memperkuat ekonomi sirkular, dan memperkuat standardisasi industri agar peningkatan nilai tambah untuk sektor industri hijau ini makin besar,” ujar Dewi. 

Sustainability Director Cargill Indonesia, Yunita Widiastuti, menyampaikan pentingnya kesiapan perusahaan dalam menyesuaikan strategi bisnis dengan kebutuhan pasar. meningkatkan daya saing produk, serta memenuhi tuntutan keberlanjutan yang makin berkembang di tingkat global.  

Menurut Yunita, tantangannya bukan sekadar membuat produk berkelanjutan, tetapi apakah klaim tersebut dapat diverifikasi, dapat ditelusuri, dapat dibuktikan dengan data, dan terlihat dampaknya di lapangan. Ketika berbicara mengenai kesiapan ekspor hijau, maka berbicara mengenai kesiapan seluruh sistem usaha yang ada, mulai dari sumber bahan bakunya, legalitasnya, proses produksi, sistem data.

“Sampai kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan pelanggan dan regulator,” kata Yunita.