Isunomic-Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan, industri furnitur dan kerajinan Indonesia memiliki basis bahan baku lokal yang kuat, menyerap banyak tenaga kerja, dan bernilai tambah tinggi. Kesiapan eksportir Indonesia dalam mematuhi aturan ketelusuran (traceability) dan berbagai regulasi internasional juga menunjukkan bahwa produk-produk Indonesia telah memperlihatkan daya saingnya.
“Kesiapan ini menjadi tiket masuk ke pasar dengan regulasi ketat seperti Uni Eropa dengan aturan deforestasinya,” tutur Puntodewi di Jakarta, hari ini (8/10/2026).
Menurut Puntodewi, para buyer produk furnitur lokal datang dari pasar utama seperti Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, dan Australia. Juga terdapat buyer dari kawasan Timur Tengah, India, Afrika, dan ASEAN.
“Para buyer tersebut merupakan importir besar, peritel global, desainer interior, serta kontraktor proyek perhotelan dan property,” tambah Puntodewi.
Puntodewi melanjutkan, ekspor furnitur nasional pada tahun berjalan 2026 mencapai USD1,20 miliar atau setara Rp21 triliun (kurs Rp17.500) dengan surplus pada neraca perdagangan USD576,32 juta atau Rp 10 triliun lebih. Furnitur kayu menyumbang 68,1% pangsa ekspor, sementara furnitur logam menunjukkan tren positif sebagai peluang diversifikasi.
Pasar nontradisional untuk produk furnitur juga mulai menjanjikan. Ekspor ke Yunani melonjak 279,4% dan ke Prancis tumbuh 8,1%.
“Selain itu, kondisi global saat ini membuat buyer mancanegara aktif mencari pemasok alternatif yang berasal dari Indonesia,” tandas Puntodewi.