Isunomic - Warung Madura, alias warmad, bisa jadi sudah tidak asing di telinga. Tak ada yang tahu pasti jumlah warmad di seluruh wilayah Indonesia. Yang pasti, keberadaannya banyak ditemukan di sejumlah titik pinggir jalan di berbagai wilayah.
Membedakan warung madura atau bukan, kini jadi lebih mudah. Ya warmad memiliki beberapa ciri yang sudah menjadi kekhasannya. Apa saja itu? Pertama etalase atau rak kaca.
Warung madura menggunakan etalase atau rak kaca untuk memajang berbagai barang dan terutama merek rokok yang dijual. Kelengkapan merek rokok di warung ini di atas rata-rata warung lainnya. Rak kaca juga digunakan untuk menempatkan berbagai jenis beras. Warung lainnya, biasanya menggunakan bak pelastik atau kotak dari kayu.
Ciri kedua adalah keberadaan Suzuki Thunder di depan, di samping atau sekitar warung. Warmad pada umumnya menjual bensin eceran lewat “pom bensin” supermini. Jika pom bensin sungguhan menggunakan truk tangki untuk mengisi SPBU, warmad mengandalkan Suzuki Thunder yang tangkinya bisa menampung bensin sebanyak 14 liter.
Pernah viral deretan Suzuki Thunder yang mengantre di SPBU. Makanya Suzuki Thunder ini punya julukan, ”diam berdebu, bergerak menguras SPBU”.
Ada ”trik” bagi pedagang warmad sehingga mereka bisa “leluasa” membeli bensin meski ada pengumuman “tidak melayani Suzuki Thunder”. Konon, mereka tak mengambil “uang kembalian” dari operator SPBU yang melakukan pengisian. Mereka juga kerap berganti-ganti SPBU untuk mengisi bensin agar tak menarik perhatian.
Dengan trik itulah pertamini ala warmad bisa bertahan. Nah pertamini atau pedagang bensin eceran ini pernah menjadi momok buat Pertashop yang merupakan jaringan resmi Pertamina. Beberapa tahun lalu, Ketua Umum Himpunan Pertashop Indonesia Merah Putih Indonesia (HPMPI) mengeluhkan persaingan dengan pedangan eceran BBM bersubsidi.
“Pertashop tidak boleh menjual BBM bersubsidi, sedangkan pedagang eceran yang tidak resmi mudah mendapatkannya, dan bisa menetapkan harga sendiri,” kata Steven waktu itu.
Ciri lain dari warung madura atau warmad adalah buka 24 jam dan isi terbilang lengkap. Ada “lelucon” juga soal warmad yang selalu buka tiap hari dan tak pernah tutup itu. Saat kiamat, warmad tetap buka meski setengah hari.
Pilihan tetap buka setiap hari selama 24 jam adalah mode bertahan dan berkembang warmad. Mereka melakukan itu untuk membayar sewa tempat dan juga terus melengkapi berbagai barangnya.