Oleh: Uka Kadalora, Mahasiswa Semester IV FEB-IIs, Jurusan Ekonomi Sejarah

 

Frase ‘swasembada beras’ pertama kali mulai berdengung pada pekan terakhir November 2025. Menteri Pertanian Amran Sulaiman adalah sosok yang pertama kali menyampaikan bahwa bangsa ini akan mencapai swasembada beras, usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta. 

Dengung swasembada beras mencapai puncak tatkala Presiden Prabowo secara langsung mengumumkannya, di acara Puncak Peringatan Natal Nasional Tahun 2025 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 5 Januari 2026. Swasembada beras artinya kita mampu memenuhi seluruh kebutuhan beras rakyat dari hasil panen sendiri, tanpa perlu bergantung pada impor.

Di akhir 2025 produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton, sebuah angka yang kemudian disebut sebagai “rekor”.  Banyak pihak yang kemudian ramai menyebut pencapaian itu merupakan sejarah. Sebelumnya, produksi beras paling tinggi terjadi pada 2018 sebanyak 32,4 juta ton.

Angka 34,77 juta ton itu melampaui kebutuhan konsumsi beras masyarakat Indonesia yang berada di kisaran 31,2 juta ton per tahun. Artinya, ada kelebihan atau surplus beras sebesar 3,5 juta ton. Surplus itu membuat stok atau cadangan beras di Bulog mencapai 5,36 juta ton. Lagi-lagi disebut sebagai rekor dan sejarah.