Isunomic-PT Surya Dhoho Investama (SDHI) resmi mengelola Bandara Internasional Dhoho Kediri secara mandiri sebagai badan usaha bandar udara (BUBU) setelah memperoleh Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara (DJPU) Nomor KP-DJPU 216 Tahun 2026.  

Capaian ini menandai babak baru dalam pengelolaan dan pengembangan Bandara Internasional Dhoho Kediri. Sebelumnya, pengelolaan bandara dilaksanakan melalui skema kerja sama operasi (KSO) antara PT Surya Dhoho Investama dan PT Angkasa Pura Indonesia. 

Okky Riana Hartadi, Direktur Operasi, Safety dan Pengembangan PT Surya Dhoho Investama, menyampaikan bahwa diperolehnya Sertifikat Standar BUBU menjadi tonggak penting bagi SDHI dalam mengelola Bandara Internasional Dhoho Kediri secara mandiri.

“Dengan status sebagai BUBU, kami memiliki ruang yang lebih luas untuk mengoptimalkan pengelolaan, mengembangkan layanan, serta merespons kebutuhan pasar dan masyarakat secara lebih cepat dan adaptif," ujarnya dikutip Minggu (4/10).

Pengelolaan secara mandiri tersebut menjadi bagian dari langkah strategis SDHI dalam mengoptimalkan pengelolaan, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengembangkan bandara secara adaptif dan berkelanjutan.  Sebagai bagian dari kawasan Selingkar Wilis, Bandara Internasional Dhoho Kediri memiliki posisi strategis dalam membuka akses dan menghubungkan berbagai potensi wilayah di Jawa Timur. 

PT Surya Dhoho Investama (SDHI) adalah perusahaan yang terafiliasi atau anak perusahaan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Sebanyak 99,99% saham SDHI dipegang oleh GGRM dengan menyuntikkan modal hampir Rp13 triliun. 

PT SDHI bergerak di bidang infrastruktur, khususnya sebagai badan usaha pelaksana yang membangun dan mengelola Bandara Dhoho Kediri. Bandara ini dibangun di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dengan luas total lahan hingga 370 hektare.

Luas terminal penumpang sekitar 18.224 hingga 28.000 m2 meter dan mampu menampung 1,5 juta penumpang per tahun. Landasan pacunya (runway) memiliki panjang 3.300 meter dan lebar 45 meter.