Kenaikan harga Pertamax ternyata juga menyumbang inflasi pada Juni 2026. Inflasi pada bulan itu sebesar 3,34%, naik dibanding Mei yang 3,08%. Selain makanan, minumuman, dan tembakau, kenaikan inflasi juga didorong inflasi sektor transportasi yang tercatat 4,57% dengan andil 0,55%.

"Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh inflasi pada bensin," kata Deputi Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono.

Dihadapkan pada kenaikan harga Pertamax dan harga barang lainnya, terutama pangan, membuat sebagian masyarakat kelas menengah bawah dan masyarakat menuju kelas menengah (aspiring middle) melakukan ā€œmigrasiā€ penggunaan BBM, dari Pertamax ke Pertalite. Langkah itu dipilih untuk mengurangi beban pengeluaran ketika pendapatan stagnan. 

Migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite dikonfirmasi oleh Pertamina sendiri. Dalam rapat antara PT Pertamina Patra Niaga dengan Komisi XII pertengahan Juli lalu terungkap.

Konsumsi Pertalite pada Juli meningkat sekitar 9,4%. Dari sisi komposisi, porsi Pertalite dalam konsumsi bensin naik dari sekitar 75% pada periode Januari-Mei menjadi sekitar 80%.

"Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU, khususnya Pertamax series, terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya," kata Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto.

Migrasi itu membuat kuota konsumsi BBM subisdi atau Pertalite pun terancam jebol. Realisasi penyaluran Pertalite hingga Juli 2026 sudah mencapai 16,54 juta kl dengan kuota yang ditetapkan sebanyak 28,69 juta kl. Sementara realisasi penyaluran solar subsidi 11,18 juta kl dan kuotanya sebanyak 18,36 juta kl. 

Hitung-hitungan Pertamina, penyaluran solar sampai akhir tahun 2026 berpotensi mencapai 20,09 juta kl atau 9,4% di atas kuota. Penyaluran Pertalite diramalkan menyentuh 29,18 juta kl atau 1,7% di atas kuota.

Pertalite dan solar memang disubsidi, tapi besaran subsidi berdasarkan asumsi ICP yang ditetapkan dalam APBN. Jika harga minyak dunia naik yang berujung pada kenaikan ICP, maka pemerintah harus menyiapkan lagi anggaran untuk kompensasi. Semakin banyak penggunaan BBM subsidi semakin besar biaya kompensasi yang harus dibayar pemerintah. 

Jadi pernyataan Menkeu bahwa bertambahnya penggunaan barang subsidi, terutama BBM, menjadi pertanda menggerakan ekonomi memang benar. Tapi di balik itu, tersembunyi juga tekanan ekonomi terhadap masyarakat.