Internet bukan lagi sekadar sarana hiburan, melainkan infrastruktur utama untuk belajar, bekerja, dan berjejaring bagi anak muda. Namun, industri telekomunikasi sangat bergantung pada impor perangkat keras, lisensi teknologi, serta kapasitas server global yang bertransaksi menggunakan mata uang asing. Ketika rupiah melemah, beban operasional penyedia jasa internet melonjak. Akibatnya, penyesuaian tarif kuota data atau paket berlangganan internet rumah tak terelakkan. 

2. Budaya Nongkrong di Kafe: Dari Gaya Hidup Menjadi Kalkulasi Strategis

Aktivitas "nongkrong" atau work from cafe (WFC) telah berakar menjadi bagian identitas sosial anak muda urban. Kendati demikian, sektor food and beverage (F&B) tidak luput dari dampak depresiasi mata uang. Komoditas pendukung seperti biji kopi impor, susu berkualitas tinggi, hingga bahan baku sirup dan perangkat pendukung kafe mengalami kenaikan harga modal. Demi menjaga margin keuntungan, banyak kedai kopi menyesuaikan harga jual menu mereka. Perubahan ini memaksa anak muda untuk mengubah strategi: frekuensi berkunjung ke kafe berkurang, ukuran porsi diminimalkan, atau beralih ke alternatif yang lebih terjangkau.

3. Pariwisata dan Gaya Liburan: Pergeseran dari Impor ke Domestik