Bioteknologi modern juga memungkinkan pemanfaatan gen tertentu untuk menghasilkan sifat spesifik, misalnya ketahanan jagung terhadap hama sasaran melalui gen dari bakteri yang menghasilkan protein toksik terhadap hama tersebut.

“Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat dapat menilai inovasi pertanian secara objektif dan tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru,” ujar Antonius.

Menurut Antonius, varietas bioteknologi memiliki dua karakteristik utama, yaitu tahan terhadap hama sasaran dan toleran terhadap herbisida berbahan aktif glifosat. Kombinasi kedua karakteristik ini berpotensi mendukung pengendalian hama dan gulma yang lebih efektif serta meningkatkan efisiensi usaha tani. 

“Penerapannya tetap harus mengikuti rekomendasi teknis budidaya dan ketentuan penggunaan herbisida yang berlaku,” tandas Antonius.

Kementerian Pertanian (Kementan) pun terus mendorong pemanfaatan bioteknologi dan teknologi pemuliaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, dan daya saing pertanian nasional. Pengembangan padi lokal Rojolele menjadi contoh pemanfaatan teknologi untuk memperbaiki karakteristik varietas dengan tetap mempertahankan keunggulan lokal.