Isunomic-Sinergi tata kelola, investasi, dan inovasi dalam menjaga keberlanjutan keuangan haji perlu terus ditingkatkan. Ketiga pilar tersebut menjadi fondasi untuk memastikan dana haji dikelola secara akuntabel, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat bagi jemaah saat ini maupun generasi mendatang. 

“Tata kelola menjaga amanah. Investasi menjaga keberlanjutan dana. Inovasi menghubungkan sumber daya keuangan dengan layanan yang lebih baik dan peluang produktif,” kata ujar Wakil Menteri Keuangan Juda Agung dalam The 8th International Hajj Fund Forum 2026, Kamis (15/10).

Wamenkeu Juda menambahkan, dari sisi tata kelola pengelolaan dana haji perlu menyeimbangkan keterjangkauan biaya bagi jemaah yang berangkat saat ini dengan keberlanjutan dana untuk jemaah pada masa mendatang. Tata kelola juga mencakup penguatan manajemen risiko, transparansi, serta distribusi Nilai Manfaat yang mempertimbangkan kewajiban jangka panjang. 

 Pada aspek investasi, Wamenkeu mendorong strategi yang mengutamakan likuiditas, pendapatan stabil, dan pertumbuhan jangka panjang dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan syariah. Indonesia juga berpeluang memperkuat perannya dalam ekosistem ekonomi haji dan umrah global melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pengembangan Indonesia Hajj Investment Platform untuk mengidentifikasi peluang investasi produktif.