Kenapa bank syariah belum bisa diterima masyarakat muslim Indonesia sepenuhnya? Ada banyak kendala yang membuat perkembangan perbankan syariah seolah jalan di tempat.
Adi Warman Karim, pengamat ekonomi syariah, dua tahun lalu pernah menuturkan semua kendala itu kepada penulis. Kendala pertama adalah ukuran bank-bank syariah yang berdampak pada skala usaha.
Dalam bisnis perbankan, skala bisnis atau ukuran menjadi penting. Semakin besar modal, semakin besar aset, dan semakin besar pula skala usahanya, maka akan menghasilkan laba yang kian besar. Jika laba besar, maka peluang untuk bertumbuh juga besar.
"Kalau kita lihat size bank syariah, kecil-kecil, sehingga upaya untuk pertumbuhan agak menjadi kendala," kata Adiwarman Karim kala itu.
Memang Indonesia punya bank syariah besar, yaitu Bank Syariah Indonesia (BSI) yang dibentuk pada 1 Februari 2021. BSI merupakan gabungan dari bank syariah milik tiga bank BUMN, yaitu Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, dan BNI Syariah.
Sayangnya BSI hanya bank syariah besar semata wayang. Saat ini, BSI pun cuma bisa “mendekam” ke dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3, dulu sebutannya bank BUKU III. Hingga Maret 2026 modal inti BSI sebesar Rp46,15 triliun, masih kurang Rp23,85 triliun agar bisa berdiri “sejajar” dengan kelompok KBMI 4 atau The Big Four, yaitu Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI.
Dengan modal sebesar itu, dalam berbisnis BSI kewalahan ketika berhadapan dengan The Big Four. BSI tak akan mampu melawan mereka, baik secara modal, maupun digital.
Pada 2025, modal inti Bank Mandiri Rp304,43 triliun (konsolidasian) atau Rp238,08 triliun (individual). BCA punya modal inti Rp258 triliun (individual) dan Rp273 triliun (konsolidasian), BRI modal intinya Rp246,05 triliun (individual) dan Rp301,85 triliun (konsolidasian), dan terakhir BNI modal intinya Rp155,84 triliun (individual) dan Rp160,88 triliun (konsolidasian).
Jangankan melawan The Big Four konvensional, melawan bank sekelasnya saja, BSI masih gelagapan. CIMB Niaga, misalnya, yang punya modal inti Rp53,81 triliun (2025).
Di era digital saat ini, ketika bank-bank mulai merasionalisasi jumlah kantor fisiknya, pengembangan teknologi informasi (TI) menjadi startegi utama pengembangan bisnis bank. Tak heran jika bank-bank besar berlomba-lomba memperbesar anggaran belanja TI-nya. Itu pula yang dilakukan oleh BSI.
Sepanjang 2023 sampai dengan 2026 BSI telah menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp7 triliun untuk pengembangan teknologi informasi. Bisa dirata-ratakan belanja TI BSI per tahun Rp1,75 triliun.
“Kalau TI kita menggunakan capex dari multiyears, dari 2023 sampai dengan 2026 itu sekitar Rp7 triliun. Jadi selama empat tahun itu,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo awal Juli lalu (1/7).
Di seberang BSI, belanja modal TI Bank Mandiri pada tahun 2025 dianggarkan sebesar Rp3 triliun. BCA sekitar Rp8,64 triliun di tahun 2025.
Kemudian, BRI sebesar 57% dari belanja modalnya yang sebesar Rp7-8 triliun per tahun dialokasikan untuk TI. Artinya, bisa mencapai Rp4,56 triliun per tahun. BNI menganggarkan belanja TI-nya sebesar Rp1,9 triliun (2024).