Isunomic-Kado ulang tahun dari Haji Isam buat Bank Mandiri di usianya yang ke-28 ternyata masih terus diperbincangkan. Sebelumnya, Bank Mandiri tak mengungkap besaran kredit yang disalurkan ke Haji Isam untuk memborong saham BYAN senilai Rp26 triliun lebih.
Senin (26/10/2026), lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Mandiri pun akhirnya blakblakan. Bank berlogo pita ema situ menyatakan telah menyalurkan kredit kepada PT Jhonlin Baratama senilai Rp17 triliun.
Tujuan penggunaan kredit itu untuk pengembangan usaha meliputi belanja modal (capex) serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan group usaha Jhonlin di industri batu bara dan penunjangnya. Pemberian kredit bukan untuk jual beli saham, ya setidaknya itu menurut pengakuan Bank Mandiri.
Menariknya, kredit yang sudah disalurkan itu baru sebagian kecil dari plafon yang disediakan Bank Mandiri buat Haji Isam. Plafon kredit yang diberikan Bank Mandiri lebih besar 50% dari dana yang dikeluarkan Haji Isam memborong saham BYAN.
“Plafon fasilitas kredit yang diberikan kepada PT Jhonlin Baratama senilai Rp40 triliun, dari plafon tersebut yang telah digunakan adalah Rp17 triliun,” tulis Adhika Vista, Senior Vice President Bank Mandiri, dikutip Rabu (28/10/2026).
Adhika juga mengungkap bahwa jaminan-jaminan yang diberikan Haji Isam lebih besar dibanding plafon kredit yang diterimanya. Selain saham JARR dan PGUN, Bank Mandiri juga menerima jaminan lain, seperti fixed asset (aset tetap seperti tanah dan bangunan) dan non fixed asset (mesin-mesin atau inventaris perusahaan).
“Total agunan kredit yang dijaminkan lebih besar dari fasilitas kredit yang diberikan dan telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN dalam 1 bulan terakhir, maka total collateral coverage ratio masih terjaga di level 150%,” jelas Adhika.
Menurut Bank Mandiri, pemberian kredit kepada Haji Isam berdasarkan penilaian yang menyatakan bahwa debitur memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban. Sumber utama pembayaran yang dilakukan Haji Isam hanya berasal dari keuntungan usaha batu bara.
“Sumber utama pembayaran kembali fasilitas kredit berasal dari operasional usaha perusahaan dan beberapa anak perusahaan (operating company) yang dapat memberikan dividen dan hanya berasal dari usaha batu bara yang dimiliki oleh debitur dan group usaha,” jelas Adhika.
Sayangnya, Bank Mandiri tidak mengungkap jangka waktu (tenor) pembayaran kredit kepada Haji Isam. Urusan tenor, ke depan dinilai bisa menimbulkan risiko, apalagi jelas-jelas disebutkan bahwa sumber pembayaran utang hanya berasal dari keuntungan usaha batu bara.
Dengan jaminan saham-saham emiten batu bara, dan juga sumber pembayaran hanya berasal dari bisnis batu bara, tampaknya Bank Mandiri meletakan “nasib” kredit ke Haji Isam pada harga batu bara.
Memang saat ini harga batu bara menembus level USD150 per metrik ton, bahkan di tahun 2022 sempat mencapai USD400 per metrik ton. Salah satu pemicu kenaikan harga batu bara adalah faktor geopolitik global, perang Rusia-Ukraina dan perang di Selat Hormutz.
Kondisi geopolitik global, bisa saja berubah total dalam jangka waktu lima tahun ke depan, atau lebih pendek dari itu. Di Amerika Serikat misalnya, bisa saja Donald Trump terjungkal dalam pemilu sela yang akan berlangsung pada November depan.
Kebijakan Trump yang memulai perang dengan Iran di Selat Hormutz mendapatkan gelombang penolakan yang terbilang besar. Dalam beberapa survei terbaru, tingkat ketidakkepuasan publik AS terhadap Trump terlihat dominan.
Survei Reuters/Ipsos (16–19 Oktober 2026) mencatat tingkat persetujuan (approval rating) terhadap kinerja Donald Trump berada di angka 34%, sedangkan 65% menyatakan tidak setuju. Kemudian survei RealClearPolitics (Oktober 2026) yang menunjukkan bahwa 60,4% warga Amerika Serikat tidak menyetujui kinerja Trump, berbanding 38,8% yang menyatakan puas.
Lalu, survei Gabungan (Washington Post, ABC, dan Ipsos) mencatat tingkat ketidakpuasan terhadap kinerja Trump mencapai 62%, yang merupakan angka tertinggi sepanjang masa kepresidenannya. Masih ada survei Pew Research /Universitas Quinnipiac (Juli-Oktober 2026) yang mencatat tingkat kepuasan publik berkisar antara 30% hingga 36%.
Perang Rusia dan Ukraina pun tak menutup kemungkinan bisa berakhir dalam waktu lima tahun, atau bisa lebih cepat dari itu. Usai menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan, awal September kemarin (2/9), Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan Moskow tetap terbuka untuk negosiasi.
Putin mengatakan Rusia ingin mengakhiri konflik dengan Ukraina dan siap melakukan perundingan. Menurutnya, Rusia ingin mengakhiri perang dan mewujudkan perdamaian yang langgeng serta menyeluruh di Ukraina dan Eropa.
Ketika konflik geopolitk mereda bukan tak mungkin harga batu bara akan kembali “normal”, sekitar USD85 per ton seperti yang diramalkan Fitch Rating. Hilangnya tensi geopolitik global juga akan membuat kurs rupiah menguat, dan akan membuat ekspor batu bara tak lagi jadi primadona.
Harap dicatat juga, batu bara adalah energi kotor. Negara-negara konsumen batu bara terbesar dunia, macam China sudah lama memulai untuk mengurangi penggunaannya.
China sudah terikat dengan Perjanjian Paris atau COP21 pada 2016. Saat ini China sudah mencatat sejarah karena porsi pembangkit listrik bertenaga batu bara turun menjadi 49,7% (di bawah 50% untuk pertama kalinya) berkat lonjakan kapasitas energi surya dan angin.
Di sisi lain, India yang juga merupakan salah satu konsumen batu bara terbesar dunia terus berjuang mengatasi krisis Listrik yang dialaminya. Negeri Hindustan itu menargetkan krisis Listrik itu bisa teratasi pada 2032, atau enam tahun lagi.
Ya sekarang pertanyaan-pertanyaan besarnya adalah, apakah Perang Rusia-Ukraina dan Perang Amerika Iran bisa berakhir cepat? Apakah China terus mengurangi ketergantungannya pada batu bara? Apakah India bisa mengatasi krisis listriknya?
Semua pertanyaan itu bisa dengan mudah dijawab oleh stiker Bang Haji Bolot, “Nah itu dia”.