Isunomic-Gaes, barang impor bodong—tanpa dokumen atau dokumennya diakali--yang masuk ke Tanah Air dan dibeli masyarakat sejatinya merugikan. Yang rugi, bisa dibilang kita semua. Pengusaha yang memiliki pabrik rugi, pekerjanya juga rugi. Pemerintah rugi, dan konsumen pun sebenarnya dirugikan.

Contohnya, impor pakaian bekas bodong yang masih tetap marak. Impor itu akan merugikan pabrik tekstil lantaran produknya kalah saing dengan pakaian impor bodong. Jika terus dibiarkan, perlahan-lahan pabrik bakal tutup dan pekerjanya kena PHK. 

“Kalau ballpress masuk, isinya baju bekas, yang dirugikan tukang jahit, industri tekstil, industri yang men-support tekstil, dan yang terakhir merugikan konsumen. Karena itu bekas, kita tidak tahu apakah ada bakterinya, sudah ada virusnya, ada penyakitnya,” kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara, hari ini (22/9) di kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) saat mengungkap barang-barang yang dokumennya tak sesuai. 

Makanya, pemerintah gencar melakukan razia barang impor llegal, seperti yang dilakukan DJBC dan diungkap ke publik.  Jadi ada empat penindakan terhadap impor barang yang diberitahukan tidak sesuai dengan kondisi barang sebenarnya. Dari empat penindakan tersebut, Bea Cukai berhasil mengamankan 30 kontainer berisi beras dan garam yang diduga tidak sesuai dengan pemberitahuan pabean, serta 1.435 bale pakaian impor yang diduga bekas.