Isunomic-Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan program pembangunan PLTS dengan kapasitas total 100 Giga Watt peak (GWp) di berbagai wilayah Indonesia. Sebanyak 11 dari 14 proyek PLTS tahap awal berada di wilayah Jawa dan Bali.
Sebagai unit pengatur sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali, PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B JAMALI) bersama unit pelaksana di bawahnya terus memperkuat kesiapan sistem untuk mengantisipasi pertumbuhan pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
General Manager PLN UIP2B JAMALI Munawwar Furqan mengatakan, perkembangan sistem ketenagalistrikan saat ini semakin dinamis. Pertumbuhan beban, perubahan pola pembangkitan, digitalisasi operasi, hingga bertambahnya EBT membuat sistem pengaturan perlu terus menyesuaikan diri.
“Transformasi energi bukan hanya menambah pembangkit EBT, tetapi juga memastikan sistem mampu mengelola karakteristik pembangkit yang beragam. PLN terus mempersiapkan diri agar sistem siap menghadapi peningkatan penetrasi EBT,” ujar Munawwar, dalam keterangannya dikutip Kamis (22/10/2026).
Produksi listrik dari PLTS dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari dan kondisi cuaca sehingga dapat berubah sepanjang waktu. Dinamika tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam pengaturan sistem kelistrikan, terutama untuk menjaga keseimbangan antara pasokan pembangkitan dan kebutuhan listrik.
Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, PLN UIP2B Jamali memperkuat pemantauan dan pengendalian sistem berbasis teknologi digital, salah satunya melalui modernisasi Supervisory Control and Data Acquisition - Energy Management System (SCADA-EMS). Teknologi ini berperan dalam memantau, mengendalikan, dan mendukung optimalisasi operasi sistem tenaga listrik secara real-time.
Modernisasi SCADA-EMS dilakukan secara bertahap. Proses migrasi dari sistem lama ke sistem baru telah berhasil dilaksanakan pada 3 Juni 2026 dan kini memasuki tahap operasi paralel. Implementasi penuh ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Selain pembaruan teknologi, PLN juga memperkuat kompetensi sumber daya manusia. PLN turut melakukan benchmarking dengan operator sistem tenaga listrik di Amerika Serikat, Denmark, Australia, dan Jerman guna mengadopsi praktik terbaik dalam pengelolaan sistem kelistrikan modern.
“Kesiapan itu diperkuat melalui koordinasi antarunit, evaluasi kondisi operasi, serta simulasi berbagai skenario sistem. Pertumbuhan EBT dipersiapkan tidak hanya dari sisi pembangkit, tetapi juga dari sisi sistem yang akan mengelola dan mengatur masuknya energi tersebut,” jelas Munawwar.
Melalui penguatan teknologi, proses operasi, koordinasi, dan kompetensi SDM, PLN UIP2B JAMALI mempersiapkan sistem kelistrikan menghadapi perubahan bauran pembangkitan secara bertahap. Persiapan sudah dilakukan sejak awal agar ketika kapasitas EBT semakin besar, sistem pengaturan telah memiliki kemampuan untuk beradaptasi.