Isunomic-Pasar saham domestik bergerak fluktuatif sepanjang Oktober 2026, dengan IHSG beberapa kali mencatat koreksi harian yang tajam di tengah tekanan jual investor asing. Dalam kondisi seperti ini, investor membutuhkan cara yang lebih cepat untuk memahami sumber tekanan jual dan beli berasal.

Setelah empat bulan hadir, Market Radar Tuntun menjadi alat bantu bagi investor untuk membaca aktivitas pasar saham di tengah volatilitas yang meningkat. Fitur milik PT Tuntun Sekuritas Indonesia ini memantau transaksi, order book, dan pergerakan harga secara real-time.

“Saat pasar bergerak cepat, yang paling dibutuhkan investor adalah kejelasan, bukan tebakan. Market Radar Tuntun membantu investor melihat aktivitas beli dan jual besar benar-benar terjadi,” kata Ricki Juliandi, Direktur Tuntun Sekuritas Indonesia, dalam keterangannya dikutip Sabtu (31/1/2026)

Arus data pasar yang deras membuat investor sulit memilah pergerakan harga saham mana yang layak diperhatikan. Market Radar Tuntun menyoroti aktivitas yang menonjol, seperti transaksi bernilai besar dan aktivitas di pasar negosiasi, yang kerap dicermati investor sebagai jejak pergerakan dana besar atau smart money. 

“Jadi investor dapat membaca arus pasar dengan lebih cepat dan terstruktur sebelum melakukan analisis,” kata Ricki.

Menurut Ricki, setiap sinyal muncul lengkap dengan waktu kejadian, kode saham, harga, persentase perubahan, serta nilai atau volume transaksi. Investor dapat memilih saham yang dipantau, mulai dari seluruh saham, watchlist, portofolio, hingga saham tertentu. 

“Ambang setiap sinyal juga bisa disesuaikan lewat menu Settings, dan arus sinyal dapat dijeda kapan saja,” jelasnya.

Setiap sinyal di Market Radar Tuntun memiliki kriteria yang jelas, sehingga investor tahu persis mengapa sebuah saham muncul di radar. Sinyal tersebut terbagi dalam dua kelompok.

 1. Transaksi pasar dan order book:

-Huge Buy / Huge Sell: satu transaksi beli atau jual dengan volume minimal 40.000 lot.

-Intensive Buy / Intensive Sell: harga naik atau turun 3%, dengan volume beli setidaknya empat kali volume jual (atau sebaliknya) dan nilai transaksi minimal Rp50 juta dalam 10 menit terakhir.

-Rapid Buy / Rapid Sell: transaksi beli atau jual beruntun senilai minimal Rp250 juta tanpa diselingi transaksi arah sebaliknya.

-Large Best Bid / Large Best Offer: antrean beli atau jual minimal 40.000 lot yang masuk dalam satu order.

-Nego Spike: transaksi di pasar negosiasi senilai minimal Rp25 miliar.

-Nego Active: transaksi beli di pasar negosiasi selama tiga hari berturut-turut dengan total minimal Rp50 miliar.

2. Pergerakan harga:

-Breakout High / Breakdown Low: harga menembus level tertinggi atau terendah dalam periode satu bulan, tiga bulan, atau satu tahun.

-Quick Rebound / Quick Reject: harga bergerak tajam dalam 15 menit, lalu berbalik arah dalam 5–15 menit dengan volume lebih tinggi.

“Investor dapat menaikkan ambang sinyal sesuai kebutuhan, misalnya menetapkan Huge Buy mulai 50.000 lot atau Nego Spike mulai Rp75 miliar, agar radar hanya menampilkan aktivitas yang paling relevan baginya,” tandas Ricki.