Isunomic-Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Senin (2/11/2026), benar-benar menguji level 5.000 atau level keramat. Saat pembukaan, IHSG langsung nyungsep nyaris mencium lantai level goceng, tepatnya 5.017.

Meski sempat siuman, dan bangkit kembali, IHSG tetap masuk di zona merah pada sesi awal perdagangan. 15 menit kemudian, IHSG telah turun 0,63% atau 32 poin ke 5.025.

Ada sejumlah sentimen yang membuat IHSG terjerembab pada pagi hari ini. Dari dalam negeri sentimen datang dari pelemahan mata uang garuda hingga Rp18.185. Pelemahan ini memicu aksi jual berkelanjutan oleh investor asing.

Sentimen lainnya, terkait aturan baru bursa mengenai saham HSC. Mulai hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengeluarkan 80 saham berkarakteristik High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG, yang memicu penyesuaian bobot saham di bursa.

Isu reklasifikasi MSCI juga masih berdampak di pasar saham domestik. Pasar secara umum masih dibayangi oleh kekhawatiran investor terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI menjadi standalone market.

Sementara sentimen dari seberang datang terkait inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang meningkat sehingga menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan suku bunga global. 

PCE inflasi AS adalah indikator ekonomi utama yang mengukur rata-kira perubahan harga barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen atau rumah tangga di negara itu.